Kamis, 19 Februari 2015

Prosa Lama



Prosa lama adalah karangan bebas, biasanya isi prosa lama bersifat istana sentris artinya menceritakan tentang istana. Yang termasuk prosa lama antara lain:
1. Dongeng  
      Dongeng adalah cerita khayalan yang tidak mungkin terjadi. Dongeng biasanya bersifat fantasi (khayalan semata-mata). Menurut isinya dongeng terbagi menjadi:
a. Fabel, adalah dongeng yang berisi dunia binatang.
    Misalnya: Hikayat pelanduk jenaka.
b. Lagenda, adalah dongeng yang berhubungan dengan kejadian suatu tempat.
    Misalnya: terjadinya Rawa Pening.
c. Mite, adalah dongeng yang berhubungan dengan makhlus halus.
    Misalnya: Nyai Roro Kidul.
d. Sage, adalah dongeng yang mengandung unsur sejarah.
    Misalnya: Ciung Wanara.
e. Parable, adalah dongeng yang banyak mengandung pendidikan.
    Misalnya: Maling Kundang.

2. Cerita Jenaka
      Cerita jenaka adalah cerita tentang kebodohan, kemalangan, atau kecerdikan seseorang yang disampaikan secara humor (lucu). Misal: cerita Pak Belalang, cerita Pak Kodok, cerita Pak Pandir, dan cerita Lebai Malang.
      Hampir setiap daerah di Indonesia memiliki cerita jenaka, misalnya:
      - Di Jawa: Joko Bodo, Joko Dolog, Joko Kendil.
      - Di Melayu: Lebai Malang, Pak Kodok.
      - Di Sunda: Bapa Leco, Aki Bolong, Si Kabayan, Bapa Lucung.
      - Di Aceh: Hikayat Meudeuhak, Haram Jadah..
      - Di Minangkabau: Pak Pandir.
      - Di Toraja: Banga Pali.
      - Di Batak: Si Belalang

3. Pelipur Lara
      Cerita pelipur lara adalah cerita tentang kegagalan dan keberanian putra-putri raja yang disertai dengan keindahan istana yang berakhir dengan kebahagiaan. Misalnya: Hikayat Maling Kundang, Hikayat Si Umbut Muda, Hikayat Si Belalang, Hikayat Anggun Cik Tunggal.

4. Hikayat
      Hikayat adalah cerita khayal tentang putra-putri raja. Cerita ini bersifat istana sentris artinya selalu menceritakan di istana. Hikayat dapat dibagi menjadi:
      a. Melayu asli: 
         * Hikayat Si Miskin
         * Hikayat Langlang Buana
         * Hikayat Indera Bangsawan
         * Hikayat Maling Kundang

      b. India:
         * Hikayat Sri Rama
         * Hikayat Pandawa Lima

      c. Arab:
         * Hikayat Amir Hamzah
         *  Hikayat Bachtiar

      d. Persia:
         * Hikayat 1001 Malam
         * Hikayat Bayan Budiman

5. Silsilah
      Silsilah adalah cerita tentang asal-usul raja atau kaum bangsawan. Silsilah disebut juga tambo atau sejarah. Misalnya: Hikayat Raja-Raja Pasai, Silsilah Bugis.

6. Epos
      Epos adalah cerita yang mengisahkan kepahlawanan seseorang. Epos disebut juga wiracarita atau hikayat pahlawan nusa. Ada dua macam epos, yaitu:
a. Epos autentik, adalah cerita pahlawan yang hidup ditengah-tengah masyarakat. Epos ini disebut juga epos rakyat. Contoh: Mahabrata, Ramayana.
b. Epos imitasi, adalah cerita pahlawan yang hidup diangan-angan pengarangnya saja. Contoh: Hang Tuah, Aeneis, La Divina Comedia.

7. Cerita Berbingkai
      Cerita berbingkai adalah cerita yang didalamnya tedapat cerita lagi. Contoh: Cerita 1001 Malam, Hikayat Panca Tantra.


Rabu, 18 Februari 2015

Bentuk Sastra

Bentuk sastra adalah bagaimana cara pengarang menuliskan hasil sastra. Berdasarkan betuknya sastra terbagi menjadi 4, yaitu :
1. Prosa, menurut pengertian lama prosa adalah karangan bebas, artinya karangan yang tidak terikat oleh aturan-aturan tertentu. Prosa digolongkan menjadi 2, yaitu: Prosa lama dan Prosa baru.

2. Puisi, menurut pengertian lama puisi adalah karangan yang terikat, artinya karangan yang harus memenuhi syarat tertentu. Sedangkan menurut pengertian baru puisi adalah karangan yang pekat dan padat isinya. Puisi digolongkan menjadi 2, yaitu : Puisi lama dan Puisi baru.

3. Drama, kata drama berasal dari bahasa Yunani yang berarti gerakan atau pebuatan. Yang dimaksud dengan istilah drama adalah karangan yang disusun dalam percakapan supaya dapat dipentaskan. Ada sejumlah istilah yang memiliki kedekatan makna dengan drama, yaitu:
  1. Sandiwara. Istilah ini diciptakan oleh Mangkunegara VII, berasal dari kata bahasa Jawa sandhi ang berarti rahasia, dan warah yang berarti pengajaran. Oleh Ki Hajar Dewantara, istilah sandiwara diartikan sebagai pengajaran yang dilakukan dengan perlambang, secara tidak langsung.
  2. Tonil. Istilah ini berasalh dari bahasa Belanda toneel, yang artinya pertunjukan. Istilah ini populer pada masa penjajahan Belanda.
  3. Teater. Istilah ini berasal dari kata Yunani theatron, yang arti sebenarnya adalah dengan takjub memandang, melihat. Pengertian dari teater adalah (1) gedung pertunjukan, (2) suatu bentuk pengucapan seni yang penyampaiannya dilakukan dengan dipertunjukkan di depan umum.
  4. Repertair. Artinya naskah drama
  5. Lakon. Istilah ini memiliki beberapa kemungkinan arti, yaitu (1) cerita yang dimainkan dalam drama, wayang, atau film (2) karangan yang berupa cerita sandiwara, dan (3) perbuatan, kejadian, peristiwa.
  6. Pentas. Pengertian sebenarnya adalah lantai yang agak tinggi, panggung, tempat pertunjukan, podium, mimbar, tribun.
  7. Sendratari. Kepanjangan akronim ini adalah seni drama dan tari, artinya pertunjukan serangkaian tari-tarian yang dilakukan oleh sekelompok orang penari dan mengisahkan suatu cerita dengan tanpa menggunakan percakapan.
  8. Opera. Artinya drama musik, drama yang menonjolkan nyanyian dan musik.
  9. Operet. Opera kecil, singkat, dan pendek.
  10. Tablo. Yaitu drama yang menampilkan kisa dengan sikap dan posisi pemain, dibantu oleh pencerita. Pemain-pemain tablo tidak berdialog.
4. Prosa Lirik, adalah karangan bentuk prosa yang iramanya terikat. Setiap kalimat mempunyai jumlah suku kata yang hampir sama. Prosa lirik disebut juga bahasa berirama. Sedangkan di daerah Minangkabau disebut kaba.

Senin, 16 Februari 2015

Sastra Indonesia

Sastra (Sanskerta: शास्त्र, shastra) merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta śāstra, yang berarti "teks yang mengandung instruksi" atau "pedoman", dari kata dasar śās-yang berarti "instruksi" atau "ajaran". Dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada "kesusastraan" atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu. Sastra bisa dibagi menjadi sastra tertulis atau sastra lisan (sastra oral). Di sini sastra tidak banyak berhubungan dengan tulisan, tetapi dengan bahasa yang dijadikan wahana untuk mengekspresikan pengalaman atau pemikiran tertentu.

Fungsi sastra harus menyenangkan dan berguna. Menyenangkan berarti menghibur pembacanya dan berguna berarti harus mengandung nilai pendidikan. Fungsi tersebut tekenal dengan sebutan dulce et utile.

Sastrawan ialah orang yang banyak menghasilkan cipta sastra. Istilah sastrawan sekarang ini berarti pengarang prosa, sedangkan pengarang puisi disebut penyair. Sastrawan disebut juga pujangga. Berbeda dengan ahli sastra yang berarti orang yang bergerak di bidang ilmu sastra. Seorang ahli sastra belum tentu menciptakan sastra.

Apresiasi sastra ialah kegiatan mengenal daya cipta sastra sehingga dahulu batin kita timbul perasaan cinta terhadap cinta sesama.

Dasar-dasar pembagian sastra antara lain:
- Menurut bentuk
- Menurut isi
- Menurut zaman/periode